Melihat Sejarah Manusai Purba Di Jawa Barat

Melihat Sejarah Manusai Purba Di Jawa Barat

Melihat Sejarah Manusai Purba Di Jawa Barat

Travel World – Jelang libur akhir tahun, tentu perlu dong nyipian tujuan bakal pergi kemena sambil menikmati masa-masa santai tersebut. Nah agar bisa menambahh sedikit pengetahuan, sepertinya cocok bangen tu pergi menuju tempat-tempat bersejarah seperti menuju tempat peninggalan manusia purba di Gua Pawon.

Salah satu situs purbakala yang ada di Indonesia, tepatnya di Desa Gunun Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat ini menyimpan banyak sejarah kehidupan sebelum jaman modern. Ketika masuh kedalam, para pengunjung dapat melihat langsung beberapa rangka manusia purba dan benda-benda prasejarah yang diketahui telah berumur ratusan hingga ribuan tahun silam.

Melihat Sejarah Manusai Purba Di Jawa Barat Melihat Sejarah Manusai Purba Di Jawa Barat

 

Tempat ini berada di antara himpitan pabrik kapur. Lokasi situs bersejarah tersebut berdekatan dengan objek wisata Stone Garden memang tersembunyi tapi akses jalannya sudah sangat baik. Dari Kota Bandung, pengunjung bisa memulai perjalanan menggunakan kendaraan menuju Kecamatan Cipatat.

Kemudian, belokkan kendaraan ke Jalan Mekar Wangi setelah melewati Rumah Makan Setuju Utama yang berada di sisi kiri. Lalu, ikuti jalan hingga menemui persimpangan jalan. Dari sana, terdapat plang yang memberi petunjuk bagi pengunjung sampai ke Gua Pawon.

Setibanya di Gua Pawon, terdapat 63 anak tangga yang mesti dilalui untuk menuju situs rangka manusia. Bebatuan kapur di sisi kanan dan kiri serta aroma menyengat kotoran kelelawar akan menemani perjalanan pengunjung sampai ke sana.

Jika musim hujan, tanah basah akan menyulitkan pengunjung karena licin. Oleh sebab itu, disarankan untuk mengunjungi situs tersebut pada musim kemarau. Adapun fasilitas mulai dari musala hingga toilet umum sudah tersedia di sana.

Penjaga Gua Pawon Handi, menuturkan terdapat tujuh rangka manusia berjenis kelamin pria dan wanita telah ditemukan oleh peneliti yang termasuk ke dalam Ras Mongoloid. Adapun penentuan jenis kelamin diteliti berdasarkan bentuk rahangnya.

Handi pun menyebut tujuh rangka tersebut ditemukan di dua waktu berbeda. Empat rangka manusia yang ditemukan pada tahun 2003 berusia 7.300-9.500 tahun sedangkan tiga rangka lainnya ditemukan pada tahun 2017 dan berusia 10.000-12.000 tahun. Penentuan usia rangka dilakukan dengan melakukan tes DNA pada kotoran yang terdapat di gigi.

“Kerangka total ada tujuh. 2003 empat kerangka 7.300-9.500 tahun yang lalu. 2017 tiga kerangka itu 10.000-12.000 tahun yang lalu,” kata dia, Senin (10/12/2018).

Handi menjelaskan penemuan rangka manusia oleh Balai Arkeologi Bandung bermula dari penemuan tulang-tulang hewan yang sudah terbakar dan lapisan berwarna hitam di bagian gua bernama Cerumbung Asap.

Rangka manusia yang terdapat di sana, sambung Handi, ditemukan setelah peneliti melakukan penggalian selama sepuluh hari pada lubang berukuran 2 x 2 meter dengan kedalaman 140 sentimeter.

Ketika ditemukan, sambung Handi, rangka tersebut berada pada posisi melipat persis seperti manusia yang berada dalam kandungan. Diduga posisi tersebut merupakan tanda dari penguburan pada masa itu.

“Lipatan seperti bayi dalam kandungan. Mereka itu seperti kembali ke asal mereka. Kalau kita melihat Sang Ibu sedang mengandung bayi. Nah, posisinya sama,” jelas dia.

Handi menyebut rangka manusia yang ditemukan pada tahun 2003 masih lengkap strukturnya mulai dari kepala hingga kaki. Sementara, rangka yang ditemukan pada tahun 2017 hanya tersisa bagian kepalanya saja. Hal tersebut disebabkan kekuatan organ tubuh yang berbeda.

Lebih lanjut, Handi menyebut alasan manusia prasejarah menjadikan Gua Pawon sebagai hunian karena di tempat tersebut terdapat sumber mata air dan jurang yang memberi rasa aman bagi mereka dari serangan hewan buas.

“Alasan memilih gua sebagai hunian karena kelembapan tanah. Dan Gua Pawon ini lengkap ada mata airnya juga. Terus ada jurang untuk menghindari serangan dari hewan buas atau pengamanan,” ucap dia.

Meskipun demikian, Handi mengungkap bahwa rangka yang terdapat di sana merupakan replika yang telah diletakkan sesuai dengan keadaan ketika ditemukan. Adapun rangka yang asli, kata dia, kemungkinan kini berada di Balai Arkeologi Bandung.

“Yang tadi itu sebenarnya replika. Yang aslinya 2003 itu besar kemungkinan di arkeologi. Yang 2017 itu ada kemungkinan di arkeologi atau di geologi,” tutur dia.

Ke depannya, Handi menyebut jika peneliti akan melanjutkan eskavasi di Gua Pawon untuk menemukan rangka-rangka ataupun benda prasejarah lainnya.

“Baru tujuh yang terungkap. Rencananya, peneliti itu dalam satu bulan sekarang akan lanjut melakukan eskavasi di Gua Pawon,” pungkas dia.

Please follow and like us:

Enjoy this blog? Please spread the word :)